Bridging Course UK: Week 2

Don’t worry! You are not aiming for Nobel Prize! You “just” need to write a PhD Thesis!”

Lynne Newcombe, 2022
Penulis di depan Sheffield Town Hall

Tanpa terasa kami memasuki minggu kedua bridging course di sini. Pada minggu ini, topik nya adalah memulai kontak dengan potential supervisor dan bagaimana strategi untuk mengontaknya. Okay, mungkin ini juga menjadi refleksi bagi diri saya sendiri yang hampir 2 tahun terakhir aplikasi PhD yang tidak kunjung tembus juga.

Senin, 31 Oktober 2022, kami memulai course dengan penuh semangat walau ngos-ngosan sedikit hehe. Penyebabnya karena kontur jalan di Sheffield ini naik turun, berbukit-bukit. Nah, kebetulan housing kami, St. Vincent Place terletak di tempat yang cukup tinggi, let’s say di atas bukit lah. Ketika kami berangkat, jalannya masih enak, turunan ke English Language Training Center. Tapi ketika pulang alamaaak, mendaki gunung lewati lembah hehe 🙂

Hari senin kami memulai materi dengan “PhD Skills”. Setelah minggu kemarin di sini kami diberikan lebih banyak materi soal motivasi, hari ini kami diberikan materi tentang skill set yang harus dimiliki oleh mahasiswa PhD. Satu hal yang barangkali masih belum begitu common di Indonesia, khususnya di bidang social science terkait dengan Ethics. Yes, di berbagai kampus di luar negeri rata-rata mereka sudah memiliki komite etik tersendiri, yang berfungsi sebagai filter jika penelitian kita melibatkan subyek manusia, maka harus ada form consent, kemudian persetujuan juga dari komite etiknya.

Kemudian juga kami diberikan pemahaman bahwa mencari supervisor di UK, jangan terlalu silau dengan gelar Profesor. Mungkin karena itulah di sini, pun ketika di Swedia dulu, kami tidak pernah memanggil dosen dengan sebutan doktor atau profesor. Something weird probably. Mereka lebih suka dipanggil langsung nama, dan selayaknya posisi mereka seperti rekan kerja. Karena yang terpenting bukanlah title profesor itu sendiri, namun bagaimana kontribusi akademis seseorang dan justru itulah di sini mereka akan dihargai.

Di Sheffield sendiri PhD sekitar 3-3,5 tahun, dan tahun terakhir atau semester terakir mereka menamakan writing period atau nulis thesis “doang”. Hehe, tidak “doang” karena ternyata menulis akademik tidak mudah, bahkan bisa membutuhkan waktu satu tahun sendiri. Good News nya di sini, tidak ada ketentuan harus publikasi, pun juga umumnya univeristas di Inggris tidak mensyaratkan untuk kelulusan. Namun, ada supervisor juga yang tetap akan meminta publikasi, dan justru sebenarnya dengan publikasi akan membantu kita saat sidang VIVA bahwa penelitian ini sebenarnya sudah diterima.

Esoknya, hari Selasa kami mendapat materi soal proses pencarian supervisor di Sheffield. Satu hal yang bagi kita kabar baik di sini, adalah saat tutor kami berkata bahwa kita harus opportunis dan open terhadap berbagai macam peluang yang ada, bahkan tidak hanya di Sheffield. Berikut beberapa website dantips yang direkomendasikan meliputi:

  • Jobs.ac.uk
  • Find a PhD Website
  • Academic Twitter: Maksudnya di sini adalah banyak sekali univeristas atau bahkan profesor itu yang punya akun twitter, dan tak jarang mereka posting opportunity untuk PhD dengan mereka itu di twitter
  • Literature Trail: Nah, kalau ini kita melihat siapa yang menulis jurnal, kemudian googling kontaknya.
  • Conference: Kalau dapat kesempatan ini, sebar kartu nama, bahkan tutor saya berkata dia bertemu dengan supervisor nya juga co-incidentally, saat dia round table di conference, dan salah satu dosen tertarik dengan risetnya.

Oke deh, karena sudah ada lampu hijau mencari tidak hanya di Sheffield, saya pun sudah memiliki list lama yang dulunya sempat saya e-Mail, ada yang ngacangin wkwk T_T, dan seterusnya, maka saya pun menyebar eMail tersebut, seraya mengatakan bahwa saya sedang di UK, dan ingin bertemu face to face. Hitung2 juga sekalian jalan-jalan ke kota lain dong hehe 🙂

Hari rabu, kami mendapatkan materi tentang tips untuk meng-email supervisor. Okay, ada beberapa tips ternyata, alih-alih kita harus merendahkan hati di eMail kita, ternyata kita justru harus take the opportunity untuk “menjual diri”.

“Your Supervisors might learn from you, and you will learn from them. Sometimes, they take you not because he or she is more expert than you, but becase he/she want to learn from you, and doing multi-discipline research with you”

Evdokia Valiou, 2022

Hal yang saya sangat respectful di sini adalah egaliternya sistem pendidikan di sini. Bahwasanya para supervisor pun tidak menempatkan diri seolah-olah paling pandai, namun mereka juga ingin belajar dari kita sebagai PhD Student nya.

Oke, kemudian balik lagi ke tips eMail. Nah ini juga yang saya baru sadari. Untuk E-Mail pertama dulu saya sering terbiasa langsung mengirim CV dan Proposal. Tapi, justru ini akan menjadi potential technical fault. Yup, terkadang ada beberapa universitas yang bila menerima eMail asing yang belum pernah eMail sebelumnya, entah dari mana domainnya, kemudian melampirkan dokumen, maka email langsung dianggap SPAM! Naah, jangan-jangan ini juga yang menyebabkan email-email saya sebelumnya tidak ada balasan.

So, gimana dong sebaiknya? Nah, untuk email pertama, kirim tanpa dokumen. Tunjukkan pengalaman kita, ketertarikan riset kita sama beliau, juga jelaskan dan beri link doi jurnal jika kita memang sudah pernah publikasi sebelumnya. In summary, di email pertama kita, setidaknya ada 3 alasan untuk meng-Email calon supervisor ini:

  • Do they accept supervisees?
  • Are they interested to take you on?
  • Is the project open to you? (with/without funding)
  • If the project said funding for UK, tell them that you have funding from the government.

Next, in thursday, kita dapat materi soal academic presentation. Okay, kalau soal speaking, saya paling melek ini waktu kelas hehe 🙂 (bukan berarti aku ngantuk ya guys pas kelas lainnya -_______-). Hari ini juga kami diberikan contoh bagaimana melakukan presentasi dan apa yang dinamakan “Elevator Pitch”. Singkatnya bayangkan tiba-tiba kita bertemu supervisor di elevator (which is possibility nya keciiiil bangeettt hehe), lalu kita harus ngomong apa? In general, intinya kita akan mencoba convince mereka agar bisa ketemu di waktu yang lain untuk berdiskusi lebih lanjut. Walaupun di dunia nyata belum tentu berhasil juga, tapi setidaknya di sini kami belajar untuk mencoba meyakinkan seseorang dalam waktu yang kurang lebih singkat.

Hari itu juga kami mendapat pe-er untuk membuat pitch singkat, dan hari jum’at, kami presentasi satu-satu dong, dengan background Elevator di PPT Slide, biar kelihatan kaya elevator. It was really fun session, and hopefully we will have more session to present something. Finally, sampai juga di weekend dan waktunya rehat sejenak ke Edensor. See you on the next post ! 🙂

Advertisement
Categories: Bridging Course 2022 | Tags: , | Leave a comment

Bridging Course UK: Week 1

“Before you start your Ph.D., it might be good if you try to reflect on your Life Journey, which finally brings you to a Ph.D.

Quote ini saya catat tepat di hari kedua, saat membaca asynchronous materials yang dibagikan kepada kami saat menjalani Bridging ini secara online. Well, kalau dipikir-pikir panjang juga memang prosesnya hingga hari ini saat saya sampai di sini. Mulai dari dahulu saat struggle mencari beasiswa hingga saya tulis jatuh bangunnya di sini sampai 12 episode (tenang, ndak bakal ngalahin sinetron tersanjung, atau cinta fitri kok banyaknya, hehe). Sampai masa-masa saat menyelesaikan S2 yang pernah saya tuliskan di sini, walau akhirnya ceritanya di situ pada waktu itu niatnya bersambung sampai akhirnya tidak ada sambungannya sama sekali wkwkw. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saya menceritakan proses mengikuti seleksi Bridging Course 2022. Well, saya akan coba menuliskan sedikit ilmu yang saya peroleh selama di sini selama beberapa minggu ke depan, semoga istiqomah untuk saya-nya, dan bermanfaat untuk semua yang membaca ya 🙂

Well, di minggu pertama ini kami melaksanakan program secara online, dikarenakan di minggu ini kami menempuh perjalanan ke UK. Tepatnya tanggal 27 Oktober 2022. Sesi pertama saat itu hari Senin, 24 Oktober 2022, berlangsung via Google Meet bersama tutor kami, Lynne Newcombe, yang merupakan Direktur dari English Languange Training Centre (ELTC) di University of Sheffield.

Pada pertemuan itu kami lebih dijelaskan soal course outline dan silabus selama sekitar 2 bulan mengikuti program ini. Di akhir program, ekspektasinya adalah kami semua akan mempresentasikan proposal riset kami dalam bentuk poster, so it’s kind of Academic Posters. Selain itu, kami juga diwajibkan mengisi reflective journal setiap minggu nya, kira-kira seminggu itu sudah dapat apa saja, dan sebenarnya hal ini juga melatih kami nantinya sebagai mahasiswa PhD, untuk membuat semacam ini untuk dapat merefleksikan progress dari S3 itu sendiri. Kemudian juga akan ada sesi one on one dengan Lynne setiap minggunya untuk mengecek progress “PDKT” dengan calon supervisor.

Di sesi ini kami juga diminta untuk menuliskan refleksi terkait mengapa kami ingin melakukan PhD, juga kami diminta menuliskan kira-kira latar belakang diri kami seperti apa, keluarga, pertemanan, pendidikan dan seterusnya. Yang awalnya saya bertakon-takon hehe, untuk apa juga ya hal-hal seperti ini diingat lagi, bukankah anak muda seperti kami-kami ini menawarkan masa depan dan melakukan masa lalu (hiliih wkwkwk).

Rasa penasaran saya tersebut akhirnya terjawab esok harinya saat saya membaca materi asynchronous.

Wellington et al (Succeeding with your doctorate, 2011) suggest researchers could reflect on some or all of the following aspects of their lives in order to understand their deeper motivations for undertaking doctoral studies.”

Yess, pada hari berikutnya saya membaca materi yang berjudul “Positionality”. Intinya, keputusan seorang researcher dalam mengambil keputusan-keputusan di penelitian atau project yang dilakukannya, somehow akan terpengaruh dari latar belakang kehidupannya, identitas diri, serta hubungan dia dengan orang lain. Nah kita mestinya hati-hati dong, karena ini bisa berpotensi menghasilkan “Self Bias”, dan justru ‘Self Bias’ ini seringkali terjadi tanpa kita sadari dong :).

Karena itulah ternyata menulis “Reflective Journal” atau semacam “diary” untuk seorang PhD Student bisa dibilang penting juga hehe, karena menurut tutor kami, selain untuk mendokumentasikan catatan perjalanan riset, membiasakan diri untuk menulis, juga bahkan bisa dijadikan inspirasi untuk mengambil keputusan-keputusan dalam penelitian hehe. Ada juga salah satu senior saya di Manchester yang lagi PhD, beliau juga membuat semacam progress harian, baca literature, aktivitas apa yang dilakukan dst. Well, sepertinya perlu juga kali ya bikin gini buat selama jadi dosen, udah ngapain aja hari itu, buat melecut diri biar produktif juga kali ya, kira-kira banyakan ngajarnya, neliti-nya, atau malah kerjaan administratif-nya hehe, ups…

Hari selanjutnya saya waktu itu sangat hectic dengan seminar proposal, karena kejar setoran supaya anak bimbingan saya beres sebelum saya berangkat, juga mendampingi proses audit halal dari LPPOM MUI, salah satu pengabdian masyarakat saya semester ini di Kantin Pusat ITS. Sampai-sampai hari itu saya lupa dong kalau ada anak bimbingan yang ujian =)), akhirnya setelah di telpon langsung ngebut ke jurusan hehe. Sembari menyiapkan berbagai hal karena sudah H-1 keberangkatan, beres-beres packing dst, saya menyempatkan membuka materi asynchronous hari itu.

Summarizing, Note Taking, and Presentation. Yups, salah satu essential skills dari mahasiswa S3 sudah tentu belajar menyimpulkan. Betapa banyak nanti literature yang akan dibaca serta kita akan menuangkan kembali ke dalam tulisan disertasi kita, tentu saja dengan mem-paraphrase nya supaya tidak plagiarisme. Selain itu juga hari itu saya melihat contoh bagaimana cara presentasi yang baik. Kami diberikan contoh seorang mahasiswa doktoral saat mengikuti kompetisi thesis doktoral, dan bagaimana dia melakukan pitching hanya dalam 3 menit saja untuk menjelaskan apa yang dilakukan dalam risetnya. Juga kami mendapatkan materi tentang bagaimana seharusnya membuat PPT presentasi yang baik.

Finally, di hari Jum’at minggu pertama ini, kami akhirnya bertemu face to face di kelas. Materi hari itu tentang Critical Thinking. Yups, tentu saja ini penting, sebab saat studi PhD, dituntut untuk menghasilkan hal yang baru, menemukan celah dari literatur-literatur sebelumnya, serta berdiskusi dan berargumen baik dengan teman seperjuangan PhD, dengan supervisor, maupun nanti saat final defense dengan examiner.

Oke guys, tadinya mau langsung nulis soal apa yang sudah saya dapat di 3 minggu terakhir ini tapi ternyata panjang juga hehe :). So, see you on the next post!

Categories: Bridging Course 2022 | Tags: , | Leave a comment

Pengalaman Mengikuti Seleksi Bridging Course DIKTI 2022

Partisipan Bridging Course DIKTI 2022, bersama Lynne Newcombe, Direktur ELTC University of Sheffield

Halo semua, rasanya sudah tiga tahun lebih blog ini berdebu, dan sambil menikmati perjalanan saya di kereta dari Sheffield ke Manchester, saya ingin memulai kembali menuliskan catatan perjalanan studi di blog ini.

Yups, saat ini Alhamduililah saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program Bridging Course DIKTI di University of Sheffield, the United Kingdom, atau lebih tepatnya di Inggris. Mungkin ada beberapa yang bertanya-tanya, sebenarnya apa itu bridging course? Mata kuliah jembatan? Hehe, bukan tentunya. So, let me explain below yaah 🙂

April 2022

Sekitar bulan tersebut, saya iseng-iseng membuka website DIKTI. Kemudian, saya menemukan di bagian pengumuman bahwa DIKTI sedang membuka program ini kembali. Kalau mau kepo lebih detailnya bisa ke sini aja . Nah saya masih ingat, di tahun 2021 kemarin sempat dong mau ikut, tapi sayangnya karena persyaratannya harus sudah ada proposal penelitian, dan biasa dong, ditunda-tunda, deadliner, eh ujung-ujungnya nggak selesai berkasanya wkwk. Padahal waktu itu saya sudah minta izin dan surat rekomendasi dari bu kadept di jurusan saya.

Nah, berhubung di akhir tahun 2021 kemarin saya apply LPDP, akhirnya pada waktu itu sudah terdapat draft proposal. Sembari mencari kepastian dari calon-calon potential supervisor, saya pun tertarik untuk mendaftar kembali. Lagi-lagi ya deadliner sih wkwk, tapi alhamdulillah kali ini selesai, dan akhirnya saya submit tepat pada hari deadline, 10 Mei 2022.

Pada waktu itu ternyata ada salah satu senior saya yang lolos tahun sebelumnya, dan saya baru menguhubunginya H-1 Deadline sekedar bertanya ke mana tujuannya tahun lalu, ternyata ke University of Limmerick, Irlandia. Waaah, lumayan ini kalau seandainya lolos ke Eropa hehe…

Juni 2022

Tanggal 11 Juni 2022 saat saya sedang menikmati weekend, sebuah eMail masuk dari DIKTI. Alhamdulillah, ternyata saya dinyatakan lolos tahap awal, dan mendapat undangan untuk presentasi proposal secara online. Duh, ini deg-deg-annya bukan main. Saya masih ingat saat interview LPDP di akhir 2021 silam, proposal saya dibantai habis-habisan sama interviewer. Namun dari situ pada waktu itu proposal penelitian saya akhirnya saya bisa merevisi sesuai dengan “pembantaian” di interview akhir LPDP hehe >_<.

Sekitar 110 kandidat bergabung dalam tahap ini. Cukup beragam bapak ibu dosen ini universitasnya mulai dari timur Indonesia hingga ke barat. Saya tidak tahu pada waktu itu berapa kandidat yang diambil, namun yang terpenting saya melakukan yang terbaik. Saya mendapatkan jadwal interview pada hari Selasa, 21 Juni 2022, jam 09.40 – 10.00.

Selama interview, keduanya sepertinya sama-sama seorang akademisi. Kedua interviewer lebih menggali bagaimana pemahaman kita akan proposal, novelty-nya, metodologi penelitian, juga fokus riset saya. Dari sini kembali saya mendapat feedback yang berharga tentang scope yang masih terlalu luas, terlihat dari Research Question-nya yang masih belum menggali “ke dalam”. Well, intinya I’ve did the best, dan sudah berpasrah saja pada waktu itu. Terlebih jika lolos, berarti harus meninggalkan keluarga kurang lebih 2-3 bulan, yang berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya sih 2 bulan programnya.

Juli 2022

Sekitar minggu ketiga Juli, saya masih menanti pengumuman hasil seleksi bridging course, yang tak kunjung keluar di eMail saya. Akhirnya saya memutuskan membuka website DIKTI di sini, dan ternyata sudah pengumuman. Cukup berdebar-debar, dan Alhamdulillah ala kulli haal, ternyata belum rezekinya saya untuk lolos. Hikmahnya barangkali biar saya bisa membersamai keluarga dan mungkin bisa fokus ke pencarian supervisor via eMail.

Agustus 2022

Tidak ada angin, tidak ada air, yang ada kerjaan wkwk (apa sih). Sekitar akhir Agustus 2022, saya mendapatkan whatsapp dari DIKTI yang menawarkan untuk mengikuti Bridging Course 2022. Sempat kaget karena saya bahkan tidak masuk cadangan peserta, namun Qadrullah, ternyata banyak peserta yang mengundurkan diri, sehingga saat dilakukan perangkingan, nama saya katut untuk ditawari. Setelah meminta izin kepada atasan di kampus, alhamdulillah diizinkan dan finally saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program ini. Pengumuman peserta tambahan akhirnya keluar juga di sini.

Siapa sangka ternyata tujuannya University of Sheffield. Universitas yang menjadi pilihan pertama saya saat mendaftar LPDP di 2021 kemarin. Siapa yang menyangka juga, bahwa dalam setahun terakhir, eMail saya belum kunjung berbalas dari potential supervisor saya di Sheffield, namun ternyata dengan program ini saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung F2F di Sheffield. Ternyata dari 50-an peserta yang diterima, tidak semua ke University of Sheffield. Ada yang ke Soprone University di Hungaria, Taiwan, dan dengar-dengar juga di University of Western Australia. Alhamdulillah, saya mendapatkan keputusan dari DIKTI ke Sheffield. Selain itu juga impian mengunjungi negara Inggris tergapai juga akhirnya 🙂

September 2022

Pasca itu, kami mengebut mengurus VISA dan berbagai administrasi keberangkatan. Ekspektasinya kami akan memulai program pada 10 Oktober 2022. Waktu yang cukup mepet sejujurnya untuk mengurus VISA. Sambil menunggu Letter of Guarantee dari DIKTI serta Letter of Acceptance dari Sheffield, sebagai ASN kami harus mengurus Setneg (Surat Tugas Negara), melengkapi berkas-berkas, data tiket, berkas VISA lainnya, serta perlengkapan-perlengkapan lain selama di sana, terlebih juga saat kami di sini sudah di akhir musim gugur dan bahkan masuk musim dingin.

Mengurus VISA ke UK tidaklah susah, kita bisa tinggal registrasi online, mengisi semua kelengkapan, serta ke VFS Global terdekat, sebagai agen resmi pengurusan VISA. Kebetulan di Surabaya ada, hingga akhirnya saya memilih interview VISA di sini. Saat interview, saya membayangkan akan seseram saat dulu saya mengurus VISA ke USA, namun ternyata tidak sama sekali. Semua berkas sudah di upload soft copy-nya secara online, sehingga saat hari H, tinggal checking saja. Rasanya tidak sampai 15 menit sudah selesai.

Oktober 2022

Waktu proses VISA disebutkan sekitar 7 minggu, namun bisa lebih cepat dari itu, kalau dahulu sekitar 3 minggu sudah jadi, namun saat ini karena katanya banyak sekali aplikasi yang masuk, maka 7 minggu adalah waktu ideal. Rasa-rasanya kami akan tidak mungkin memulai tanggal 10 Oktober 2022, dan ternyata memang iya. Dari 14 orang yang berangkat ke Sheffield, baru 2 orang yang keluar yaitu saya, dan satu rekan lagi. Akhirnya diputuskanlah program kami mundur ke tanggal 24 Oktober 2022 dengan memulai seminggu pertama online terlebih dahulu.

Singkat cerita, seminggu sebelum keberangkatan VISA kami semua sudah keluar, dan akhirnya diputuskan kami berangkat pada tanggal 27 Oktober 2022. Waktu yang cukup mepet juga, akhirnya saya seminggu terakhir siap-siap, terutama beli stok bumbu masak, perlengkapan musim dingin, serta beberapa baju hangat dan berlengan panjang lainnya. Maklum, tinggal di Surabaya jadi tidak pernah membeli baju lengan panjang lagi hehe.

UK Here We Go!

Keberangkatan di Juanda. Bersama Istri dan Putri tercinta.

26 Oktober 2022 sekitar pukul 13.45, saya take off dari Juanda, Surabaya menggunakan Garuda Indonesia ke Jakarta. Kami dijadwalkan untuk berangkat ke UK menggunakan Emirates dari Soekarno Hatta, pada tanggal 27 Oktober jam 00.40, dan setelah sekitar 18 jam penerbangan, sampai di UK sekitar jam 12.30. Anyway, saat di pesawat, ternyata bersamaan dengan pertandingan Liga Champions, dan saya iseng-iseng menyalakan saluran TV yang sport di pesawat ternyata ditayangin dong. Tapi kalah T_T.

Sambil nonton Barcelona tapi kalah ._.

Sebelum keberangkatan saya sudah check in dan selalu memilih tempat duduk di samping jendela dong hehe :). Selain itu juga saya melihat di daftar makanan. Memang untuk Emirates di sini, mereka menyajikan makanan halal. Namun ternyata di food preference ada tulisan: Halal Food, ya sudah saya iseng-iseng memilih. Hasilnya ternyata alhamdulillah memang makanan saya di serve awal saat sesi makan, jadi cepat. Tapi ternyata menunya dikasih yang benar-benar tidak ada rasanya, alias benar-benar sehat dong, mulai dari salmon, dan seterusnya. Sementara penumpang di sebelah saya makanannya ada rasanya :)). Sepertinya ini bukan sekedar halal tapi juga super super thayyiban hehe.

Makanan Super Halal dan Super Sehat, gara-gara request malah porsinya ndak banyak hehe ._.

27 Oktober 2022: Welcome to Manchester!

Finally, setelah menempuh perjalanan cukup melelahkan, sampai juga kami di Manchester Airport.

Categories: Bridging Course 2022, Journey | Tags: , , | 1 Comment

Catatan Hikmah: Berangkat Haji dari Swedia

received_364478044445759.jpeg

Don’t save Hajj for the old age! You don’t know the date of your appointment with the angel of death. – Dr. Bilal Philips

Malang, November 2007

Pikiran ini melayang kembali ke 12 tahun yang lalu, saat saya masih bersekolah di MTsN I Malang. Saat itu, saya masih ingat betul di Lapangan Rampal, Malang, melepas kedua orang tua saya menuju Baitullah. Lantunan talbiyah dari lagu Opick menggema, membuat air mata saya pada waktu itu menetes. Saya memeluk ayah dan ibu sembari mendoakan keselamatan mereka berdua. Dari dalam bus, keduanya melambai, terlihat air mata mereka menetes perlahan. Hingga akhirnya bus pergi menuju Asrama Haji Surabaya. Saya pun pulang, berharap agar suatu saat bisa segera mendapatkan panggilan dariNya untuk ke Baitullah.

Hingga tak terasa, tibalah hari kepulangan. Saya menunggu dengan harap-harap cemas pada waktu itu. Alhamdulillah, ayah dan ibu dalam kondisi sehat. Masih teringat pada waktu itu ayah dan ibu saya berkata, “Nak, ibadah haji itu selain ibadah ruhani, ibadah harta, juga ibadah fisik. Makannya, nanti kamu jika ada kesempatan, sebaiknya pergi Haji saat masih muda. Karena fisikmu pada waktu itu masih kuat.” Maka sejak saat itulah, doa – doa kepadaNya senantiasa terlantun. Memohon agar Allah berkenan memanggil diri ini di usia muda.

Continue reading

Categories: Journey | 7 Comments

Blog at WordPress.com.